# EGOIS

Seperti tajuknya akan kusampaikan keegoisanku pada alur hidup yang tak bisa sesuai dengan standartku.

Ini tentang bagaimana sudut pandang ku menyikapi semua yang dilimpahkan takdir di depan pelupuk mataku.

Bisa dibilang ini hanya sekadar ego manusia akan pembenaran, tapi bagiku ini lebih seperti membocorkan hati yang isinya hampir meledak.

Aku paham akan pemikiran bahwa mungkin semua orang juga merasakan dan menghadapi hal yang sama,

Tapi diriku tak tahan dengan begitu banyak tindakan yang tak pernah dianggap berjalan sesuai rencana..

Aku tau aku penuh celah dan mungkin terlalu besar untuk kututupi, tapi bukankah setidaknya ada satu hal yang benar tentang ku??!!

Seakan aku adalah kutukan, semua hal tanpa terkecuali adalah "karena ku"

Disalahkan memang sudah biasa untukku bahkan sudah menjadi santapan wajib untuk mengawali hari.

Dari yang sepele sampai yang mega besar, dari yang berkaitan sampai yang tak menyentuh ujung rambutku sekalipun,

Mengapa tetap aku yang menjadi tersangka utama???

Apa karena aku satu-satunya budak kecil yang ada??

Atau karena ketidakbisaanku membela menjadikan aku sebagai sasaran tanpa rintangan????

Barang kecil yang belum pasti aku memakainya, setelah tak terlihat benda itu lalu tuduhan akan kehilangannya mengarah kepadaku....

Atau saat dimana seorang pencari nafkah yang terus saja menatap layar penuh notifikasi sambil tergeletak di tempat empuk dan tak mau menggerakkan seonggok daging pada kerangka tubuhnya namun dikatakan perempuan paruh baya kepadaku, "ini karena kamu tidak mencontohkan yang baik kepada bapak itu!!!"....

Atau tentang bagaimana aku dibentak karena membuang benda-benda dalam keranjang sampah ke tempat yang berbeda seperti biasanya wanita itu membuangnya dan karena hal itu aku ditegur, "aku sudah bilangkan di sebelah sana supaya mudah untukku membakarnya, kenapa sekarang berceceran kemana-mana, kalau kamu tidak ingin atau malas bilang saja, sendirian kan ku melakukannya!!!!!!!!";

Kata-katanya keluar tanpa tau bahwa dia memang belum menujukkan tempat itu padaku, aku tidak tau tapi dia tak mau percaya sedikitpun bahkan mencoba pun tidak....

Ada lagi satu tentang pintu yang terlupa ditutup kembali tapi aku yang diadili tanpa bukti padahal menyentuh kayu berengsel itu pun aku tidak....

Masih banyak lagi kesalahan, karena yang dipaparkan di atas hanya dalam lingkup ikatan darah dan belum mencakup lingkup di luarnya..

Karena aspek ini membuatku sesekali memiliki niat menyakiti dan mengakhiri diri,

Tapi tak pernah terlaksana karena aku sadar diri tak perlu melakukan hal bodoh yang toh belum tentu tidak adanya aku, aku akan jadi benar dan tidak disalahkan sama sekali,

Jadi kuurungkan niat dan kuputuskan untuk diam karena percuma adalah kata yang tepat..

Aku begini bukan karna aku balik menyalahkan mereka yang menyalahkanku,

Namun karena aku hanya ingin jawaban dari pertanyaan sederhanaku yakni "Mengapa aku??!"

Dan mungkin karena pertanyanku itulah yang tanpa sadar membuatku layaknya menyalahkan semua aspek dan menganggap hanya aku yang perlu dikasihani,

Permohonan ku hanya.., tolong ingat bahwa aku berhak, berhak bersuara walau belum pasti aku yang benar, dan berhak atas sudut pandangku tanpa perlu disenggol melulu.

Sudah.. kurasa kita perlu istirahat sejenak, sebab jika ini terus ku lanjutkan maka keluhanku akan jadi sangat panjang dan penyalahan akan semakin tertunjuk ke nama ku..

Kalian yang membacanya boleh menafsirkan apapun yang ada dipikiran kalian karena itu hak kalian dan jika aku membatasi hak kalian, kalian mungkin akan ikut menghakimi ku karena tanpa ku bentengi pun kalian, salah seorang dari kalian pasti punya sudut pengamatan yang berbeda,,

Terimakasih sajalah yang hanya bisa kuucapkan akan kesediaan anda semua dalam membaca keegoisn hamba....

Komentar