# REFLEKSI
Acap kali ia jatuhkan ego dan habisi urat rasa malu, Serta telah dibuat kepalanya terus tertunduk, Namun amarah dan pendapatnya masih saja dipaksa untuk dikubur hidup-hidup... Bukannya ingin terlalu meromantisasi goresan luka 'tak sepakat', Namun memang dagingnya masih kuat melekat. Bombardir alibi sengsara tanpa maksud menerus keluar tanpa sekat... Apa karena ocehan tak bermutu darinya yang mengganggu? Atau karena tatapan yang bahkan setir kendalinya tak bisa dia sentuh? Atau malah oleh sebab cara pikir otak yang terlalu unik untuk diberi pangkat umum.. Dunia luar terlalu terang untuk ia yang gelap serta tak bisa menyerap cahaya. Sinar mentari dalam hidupnya memang sering redup dan menyala terang sesukanya. Lalu bagaimana untuk dia bisa diterima sepenuhnya? Terbaik bukan menjadi predikat tetap untuk bisa disandangnya tiap saat. Maka tipu muslihat ia gencarkan agar boleh dianggap. Bukan perbuatan yang bisa diuji coba, Akan tetapi usaha untuk dilihat menemui jalan buntu dan sela...