# REFLEKSI

Acap kali ia jatuhkan ego dan habisi urat rasa malu,
Serta telah dibuat kepalanya terus tertunduk,
Namun amarah dan pendapatnya masih saja dipaksa untuk dikubur hidup-hidup...

Bukannya ingin terlalu meromantisasi goresan luka 'tak sepakat',
Namun memang dagingnya masih kuat melekat.
Bombardir alibi sengsara tanpa maksud menerus keluar tanpa sekat...

Apa karena ocehan tak bermutu darinya yang mengganggu?
Atau karena tatapan yang bahkan setir kendalinya tak bisa dia sentuh?
Atau malah oleh sebab cara pikir otak yang terlalu unik untuk diberi pangkat umum..

Dunia luar terlalu terang untuk ia yang gelap serta tak bisa menyerap cahaya.
Sinar mentari dalam hidupnya memang sering redup dan menyala terang sesukanya.
Lalu bagaimana untuk dia bisa diterima sepenuhnya?

Terbaik bukan menjadi predikat tetap untuk bisa disandangnya tiap saat.
Maka tipu muslihat ia gencarkan agar boleh dianggap.
Bukan perbuatan yang bisa diuji coba,
Akan tetapi usaha untuk dilihat menemui jalan buntu dan selalu tersendat.

Sesungguhnya menyadari bukanlah suatu hal yang menyulitkan,
Akan tetapi perasaannya sangat jarang dipertimbangkan.
Kebaikan disalahartikan, acuh tak acuh dilabeli sebagai kejahatan.
Hingga kata 'padahal' terlalu terlihat sebagai dalih untuk menutupi kesalahan...

Pandangan dari pelipis mata tanpa rehat menghantui isi kepala.
Suara-suara aneh seolah diperdengarkan masuk sampai menusuk gendang telinga.
Sedang selagi ia berbicara, tidak semua memperhatikannya..

Menjadi serius membuatnya dianggap membosankan dan semi tiada..
Namun lini canda yang seringkali tak selaras, membuatnya bak satu ikan kecil dalam akuarium raksasa..

Teruntuk masa ini ia masih sanggup mengusahakan sepasang kaki berpijak pada kerasnya darat.
Tapi entah sampai bila, ia amat menanti matahari untuk segera condong ke barat...

Komentar

Postingan Populer