# 0β$©uR!t¥
Mata terus terbuka dengan tatapan tanpa makna,
Otak terus berbicara, membual, dan berteriak tanpa muncul suara,
Hati mencoba berdamai dengan akal tapi berakhir perang dalam satu wadah,
Kerongkongan terasa kering, mulut pun menjadi kaku sebab sebuah rangkaian kata tak dapat terucap dan berakhir diam dalam sendu,
Jiwa tak menujukkan ketertarikkannya pada seoonggok daging berwujud tubuh akibat sayatan luka yang tak kunjung sembuh,
Bola mata yang terus melihat sementara kelopak mata meminta untuk kuncup,
Hati kini layaknya jantung yang punya bilik juga serambi, dua bagian dalam satu organ dengan sifat bertolak belakang,
Saat batin ingin memberontak, sementara nalar menyerah akan keadaan,
Teringin bertabah hati tapi iri mulai meracuni,
Bersyukur dan mengeluh sekarang ini bertarung ingin saling mengungguli,
Menggerutu mendominasi walau tau waktu terus berkurang menuju habis,
Seperti burung berkicau yang entah menggambarkan tawa atau lara,
Pohon yang ingin berpindah tapi tak kuasa menjadikannya nyata,
Bak bunga-bunga yang konon katanya indah dan penuh aroma sedap namun ternyata ada pula yang tak menarik untuk dilirik bahkan dihirup baunya,
Juga layaknya daun kering nan layu yang mau tak mau harus jatuh ke tanah atau terhempas oleh udara,
Berjuang adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan meski tak menentu hasilnya,
Berharap tanpa usaha, dan berjuang tanpa tujuan adalah nihil adanya,
Bahagia itu seperti pelangi, entah kapan akan menghampiri, tapi yang pasti didahului dengan badai dan hujan tanpa henti...
Komentar
Posting Komentar